Saturday, October 5, 2013

Renungan OMK Loyola

"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya" (2Kor 12:1-10; Mat 6: 24-34) "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."(Mat 6:24-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Hidup beriman berarti membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, maka kapan pun dan dimana pun diharapkan senantiasa 'mencari Kerajaan Allah' alias mendahulukan atau mengutamakan kehendak dan perintah Allah. Memang agar kita dapat hidup layak perlu makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal yang layak, namun hendaknya tidak berfoya-foya atau boros, melainkan secukupnya saja, sehingga dari diri kita tidak terkesan materialistis. "Janganlah kamu kuatir akan hari esok", demikian pesan Yesus, maka hendaknya kita tidak perlu menyimpan makanan, minuman atau uang dan harta benda yang berlebihan, sehingga semua orang berkecukupan, tak ada yang berkekurangan sedikitpun di antara kita. Ketika kita semua tidak ada yang berkekurangan untuk hidup layak dan tak ada yang berkelebihan, maka hemat saya kita memiliki kemudahan untuk senantiasa mendahulukan atau mengutamakan kehendak dan perintah Allah. Allah telah menyediakan makanan dan minuman bagi kita semua, dan ketika tidak ada seorangpun yang serakah, maka kita semua akan hidup sehat dan sejahtera. Dengan kata lain kepada mereka yang berkelebihan dalam harta benda, uang, makanan, minuman dan pakaian, kami harapkan dengan jiwa besar dan hati rela berkorban membagikan sebagian miliknya kepada mereka yang berkekurangan. · "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2Kor 12:9-10). Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menghayati kelemahan dan kerapuhan kita serentak kasih karunia Allah yang menyertai kita. Dengan kata lain marilah kita hayati diri kita yang lemah, rapuh dan berdosa tetapi dikasihi oleh Allah, sehingga ketika kita sehat, terampil, cerdas, kaya dst. ..kita semakin hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih. Kepada anda sekalian yang dianugerahi kecantikan atau ketampanan kami harapkan hidup dan bertindak dengan syukur dan terima kasih, demikian pula bagi yang kaya, terampil dan sehat wal'afiat. Kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataanya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kerendahan hati merupakan keutamaan yang paling dasar atau utama, dan dari kerendahan hati akan lahir keutamaan-keutamaan lainnya. "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik." (Mzm 34:8-11)

No comments:

Post a Comment